Rabu, 07 Januari 2026

Perjalanan Agus driver OJEK Online mengantarkan pesanan di perkampungan yang sunyi


PART 1 - Pesanan Terakhir

Lampu motor Agus membelah gelap seperti pisau tumpul. Jam di dashboard ponselnya menunjukkan 23.47.

Satu notifikasi masuk.

Pesanan masuk — antar makanan. Lokasi: Kampung Sido Senyap.

Agus mengernyit.
Ia hafal hampir semua sudut kota, tapi nama kampung itu asing. Aplikasinya sempat loading lebih lama dari biasanya sebelum peta muncul—jalan kecil, berliku, dan… gelap total.

“Ah, paling kampung baru,” gumamnya, mencoba menenangkan diri.

Motor melaju. Lampu jalan mulai menghilang satu per satu. Rumah-rumah berdiri jarang, pintu tertutup rapat. Tidak ada suara TV. Tidak ada anak kecil. Bahkan anjing pun tidak menggonggong.

Agus merinding.

Ponselnya bergetar.
Chat dari pelanggan.

Pelanggan: “Mas, jangan berhenti di tengah jalan. Langsung ke titik.”

Agus menelan ludah.
Ia belum berhenti apa-apa.

Semakin masuk ke kampung itu, udara terasa lebih dingin. Jalanan berubah jadi tanah. Di kanan kiri, pohon bambu berderit pelan, seolah berbisik.

Sampai akhirnya…
peta berhenti bergerak.

Titik tujuan tepat di depannya:
Sebuah rumah kayu tua, tanpa lampu, pintu sedikit terbuka.

Agus turun dari motor.
Lampu motornya tiba-tiba mati sendiri.

“Mas… makanannya ditaruh di depan pintu saja.”

Suara itu bukan dari ponsel.
Itu dari dalam rumah.

Agus mundur satu langkah.

Lalu notifikasi muncul:

Pesanan selesai otomatis. Saldo masuk.

Di layar tertulis:
Pelanggan: A G U S

Jantungnya nyaris berhenti berdetak.


(bersambung ke Part 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar