Nama di Layar
Agus menatap layar ponsel, tangannya gemetar.
Nama pelanggan: Agus.
Foto profil: wajahnya sendiri.
“Ini… nggak mungkin,” bisiknya.
Perlahan, pintu rumah kayu itu terbuka lebih lebar. Dari dalam, bau nasi dingin dan daun pisang menyeruak—bau makanan yang sudah lama tak disentuh manusia.
Suara langkah kaki terdengar… menyeret.
“Mas Agus…”
Suara itu serak, seperti pita suara yang lama tidak dipakai.
Agus mundur, tersandung akar pohon, hampir jatuh.
Dari kegelapan rumah muncul sosok lelaki berjaket ojol, helmnya retak, wajahnya pucat kebiruan.
Dan Agus mengenal jaket itu.
Itu jaket lamanya—yang hilang dua tahun lalu, malam saat ia mengalami kecelakaan di jalan kampung.
“Aku nungguin order ini lama banget,” kata sosok itu pelan.
“Kamu janji balik.”
Ingatan Agus menghantam kepalanya:
Malam hujan. Jalan gelap. Motor tergelincir.
Ia ditemukan pingsan, tapi temannya—sesama driver—tewas di tempat.
Nama temannya…
Agus juga.
Sosok itu tersenyum.
“Sekarang pesanan sudah sampai. Giliran aku pulang.”
Angin kencang berhembus.
Lampu motor Agus menyala kembali.
Rumah kayu itu lenyap.
Jalanan kembali normal.
Di ponselnya, muncul notifikasi terakhir:
Terima kasih sudah mengantar. Akun ini akan logout.
Sejak malam itu, setiap pukul 23.47, aplikasi ojol Agus selalu berbunyi…
namun tak pernah ada pesanan masuk.
Hanya satu tulisan di layar:
“Offline permanen.”
—TAMAT—
Tidak ada komentar:
Posting Komentar